Menikmati Hidup dengan Mendaki Gunung






Sabtu, 6 Juli 2019 

Entah kenapa saya kurang begitu tertarik naik gunung, atau melihat sesuatu dari ketinggian. 

Saat pertama naik pesawat, di antara decak kagum penumpang lain yang terpukau oleh awan dan daratan yang tampak berkabut, saya justru berpikir bahwa naik kereta lebih seru. Ada rumah-rumah, sawah, tiang listrik, dan segala yang dapat dijumpai di daratan.

Melihat pohon-pohon seolah melesat begitu cepatnya, atau kerumunan kendaraan yang berhenti karena terhalang pintu palang kereta. Juga kadang melihat anak-anak kecil berlarian melambaikan tangan.

Di atas pesawat, yang tampak hanya awan putih dan sesekali daratan yang terlihat seperti pulau-pulau. Saat hendak landing, baru terlihat gedung-gedung. Itu saja.

Namun mendaki juga asyik, kata teman saya. Selain sangat filosofis, juga mengajarkan arti perjuangan, kesetiakawanan, bertahan hidup, dan menyatu dengan alam.

Bahkan menurutnya, saya musti pernah mendaki, minimal sekali seumur hidup agar bisa merasakan bagaimana nikmatnya kehidupan.

Ya. Saya tahu jika sedang berbincang dengan seorang pendaki, pecinta alam, yang jelas sangat gandrung pada hobi yang dijalani.

Berkhayal jika kecintaan mereka naik gunung bisa menjadi bagian perenungan mendalam, sehingga bisa meletupkan ide dan inspirasi seperti Soe Hok Gie atau Rocky Gerung yang juga sangat gandrung naik gunung.

Juga bisa merasakan nikmatnya menjelajah sudut-sudut gunung, menyesap rasanya air telaga di atas ketinggian 1000 Mdpl. Berada di puncak yang sunyi, berteman dingin dan suara angin, jauh dari hiruk pikuk perkotaan dengan segala kompleksitas masalah yang dihadapi. Nikmat sekali, bukan?

Saat turun, bisa jadi jiwanya lebih segar, pikirannya lebih jernih, dan kebijaksanaannya bertambah.

Lanjutnya, saat naik gunung, apalagi gunung yang medan tempuhnya berat, sekaligus pertaruhan nyawa. Butuh keberanian, sebab mereka tidak tahu apa yang akan terjadi saat pendakian nanti.

Apa yang dialami Alm. Thoriq, dan pendaki lain yang gugur dalam pendakian, bisa menjadi gambaran. Betapa mendaki butuh suatu keberanian, dan kemantapan spiritual.

Meski begitu, saya belum bisa menemukan daya tariknya. Ya, barangkali kesukaan orang memang berbeda-beda. Namun saya suka ke pantai, sungai, atau air terjun.

Juga suka dengan keramaian, bertemu orang baru dengan beragam keunikannya, mencatatkan peristiwa, membaca buku-buku lintas disiplin.

Kadang saya merenungi, sekalipun bukan seorang pendaki, namun sepertinya setiap orang punya petualangannya masing-masing. []

Salam,
Ahmad Fahrizal Aziz
Bit.ly/catatanFahrizal
loading...

Post a Comment

0 Comments