Anak Orang Kaya dan Pilihannya





Rabu, 3 Juli 2019

Saat ramai sistem zonasi PPDB seperti ini, tetiba saya teringat seorang Ibu yang mengirimkan pesan via facebook, menanyakan adakah guru les menulis untuk anaknya?

Anaknya ternyata adalah murid saya, di salah satu sekolah negeri favorit di Kota Malang. Ibu itu juga tahu saya menjadi ketua FLP Ranting di Kampus. 

Saya memang rajin memposting foto pembelajaran ke facebook, mungkin dari situlah si ibu tahu saya.

"Anak saya sepertinya punya bakat menulis," lanjutnya.

Lantas saya pun merekomendasikan salah satu teman FLP yang sedianya tepat mengajari anak Ibu itu menulis. Selain les menulis, ternyata anak itu juga les piano, dan tentu saja les mata pelajaran. Semuanya privat.

loading...
Apakah ibu itu ingin anaknya jadi penulis atau musisi? Mungkin tidak. Namun tugas orang tua adalah mengembangkan bakat dan potensinya, selagi ada cukup dana.

Tak jarang juga kan kita lihat seorang bupati, walikota, menteri, kepala dinas, bos eksekutif, yang juga jago nulis dan main musik?

Anggun C. Sasmi yang kita kenal sebagai penyanyi yang mendunia itu, ternyata juga seorang eseis yang handal, sebab bapaknya dulu memang seorang penulis, meskipun penulis cerita.

Emil Dardak yang karirnya dibangun dalam bidang manajemen dan keuangan itu, yang kini merambah ke politik, ternyata juga mahir bermain piano.

Dan sederet contoh lainnya, yang bisa kita temui dalam realitas kehidupan.

Mereka yang hidup dalam keluarga berkecukupan memang cenderung punya banyak pilihan. Ada dana untuk itu. Saat tidak tertarik dengan sekolah radius zonasinya, karena sekolah itu dianggap kurang bagus, bisa memilih sekolah swasta.

Bakat dan potensinya bisa terlihat sejak dini, dan orang tua bisa ikut serta mengembangkannya. Ya entah lewat les privat dan sebagainya.

Saya teringat diri saya sendiri, yang sangat tertarik belajar piano saat kecil, senang melihat televisi acara-acara musik, namun tidak bisa menjangkaunya.

Atau saat tertarik untuk menulis, waktu kelas X Aliyah. Susah payahnya ikut diklat organisasi dalam keadaan sakit typus, hanya agar bisa menjadi anggotanya. Rela menabung agar bisa mengikuti setiap event kepenulisan. Lebih dari 30 sertifikat pelatihan atau workshop kepenulisan saya dapatkan, dengan penuh perjuangan.

Dalam satu sesi pelatihan yang saya ikuti, ada peserta yang sudah menulis sejak kecil, karena dorongan orang tuanya. Saat itu saya seperti sedang balap motor dengan peserta lain yang sudah start sejak beberapa tahun silam.

Namun itu kan dulu? Sekarang banyak hal lebih mudah diakses. Tugas negara menjembatani disparitas antara anak orang berkecukupan dan sekadar cukup saja.

Sekolah sudah melengkapi lembaganya dengan berbagai ekstrakurikuler, juga sudah banyak komunitas yang bisa menjadi wadah untuk belajar.

Hanya saja sistem zonasi kelak seperti pertaruhan dua hal, ketika tidak ada lagi sekolah favorit, bisa jadi pelayanan dan mutu pendidikan akan merata. Bisa jadi pula sebaliknya, sekolah favorit jadi tidak favorit dan sekolah tidak favorit makin tak maju karena iklim kompetisi sudah dihilangkan lewat zonasi.

Selama ini sekolah maju atau favorit identik dengan sekolahnya kaum elite dan anak orang kaya. Ada kecemburuan sosial sekaligus mempengaruhi psikologi siswa yang belajar di tempatnya. Ada rasa rendah diri ketika tahu sekolahnya tidak maju dan tidak favorit.

Padahal, yang penting sekolah bisa menciptakan iklim belajar yang kondusif. Siswanya tidak sering tawuran, tidak ada bullying, atau siswa nakal yang suka memalak siswa lainnya.

Sekolah menjadi tempat yang kondusif, tidak saja untuk menimbun angka 9 dalam rapor semesteran, namun juga bagaimana bakat dan potensi siswa bisa terwadahi, terasah, dan berkembang.

Ya, selama ini kenyataan itu masih ada di sekolah favorit, di kalangan anak-anak orang kaya. Sementara anak yang tidak masuk kriteria di atas, harus berjuang lebih ekstra. Sementara motivasi anak itu berbeda-beda. []

Salam,
Ahmad Fahrizal Aziz
loading...

Post a Comment

0 Comments