Kematian Misterius Si Jalak Harupat, Oto Iskandar Di Nata






Tahukah kamu siapa yang pertama kali memperkenalkan semboyan “Merdeka” ?
Dia lah Si Jalak Harupat: Oto Iskandar Di Nata, yang dijemput maut ketika Republik masih berusia sangat muda.

Raden Oto Iskandar Di Nata lahir di Bandung, Jawa Barat, Hindia Belanda, 31 Maret 1897 – meninggal di Mauk, Tangerang, Banten, 20 Desember 1945 adalah tokoh pergerakan nasional, menteri negara, wasit sepakbola sekaligus pahlawan nasional Indonesia. Oto dikenal dengan julukan “Si Jalak Harupat.”

Oto merupakan anak dari keturunan bangsawan Sunda bernama Nataatmaja/Haji Rachmat Adam, dan merupakan anak ke-3 dari 9 bersaudara. Sejak kecil, Oto dikenal sebagai pribadi yang nakal, tapi jujur dan suka berterus terang. Otto mengenyam pendidikan di Hollandsch Inlandsche School (HIS) Bandung, lalu Kweekschool Onderbouw Bandung, lalu Hogere Kweekschool Purworejo.

Di bangku sekolah, Oto mulai bersinggungan dengan hal–hal berbau politik. Ia memiliki hobi membaca surat kabar, dan yang menjadi favoritnya adalah surat kabar De Express yang dimotori oleh Douwes Dekker yang isinya seringkali mengecam pemerintah kolonial. Tentunya hal tersebut sangat dilarang, terlebih Oto bersekolah di sekolah milik Belanda. Alhasil, ia selalu mencuri–curi kesempatan untuk membaca secara sembunyi–sembunyi dan selalu menyelipkan surat kabar itu di bawah tempat tidurnya. Setelah lulus dari sekolah, Oto kemudian menjadi guru HIS Banjarnegara. Kemudian pada Juli 1920, ia dipindahtugaskan ke Bandung. Kepindahannya menjadi langkah awal Oto terjun di dunia pergerakan nasional.

❖ Julukan Si Jalak Harupat

Dikisahkan oleh Nina Herlina Lubis (dalam buku Si Jalak Harupat: Biografi Oto Iskandar Di Nata 1897-1945), julukan Si Jalak Harupat muncul ketika Oto masih bersekolah. Oto yang dikenal berotak cemerlang, bernyali tinggi, dan tidak suka berbasa–basi pernah sengaja menyematkan dasi di pakaian seragamnya, tidak seperti kawan-kawannya yang lain. Tak pelak, ini membuat guru sekolahnya marah.

“Oto!”, hardik sang guru yang orang Belanda itu.

“Mengapa kamu memakai dasi? Saya saja tidak memakai dasi!”.

Yang ditegur menjawab dengan tajam, “Tuan guru tidak perlu memakai dasi, sebab tuan sudah tua.”

“Kurang ajar kamu, ayo keluar!”, sembur sang guru.

Oto dengan tenang keluar dari ruangan kelas. Dugaannya benar, gurunya menyebutnya kurang ajar karena ia anak bumiputera. Lain halnya jika ia anak orang Belanda, atau setidaknya seorang Indonesia belasteran, gurunya pasti akan bilang bahwa ia adalah anak yang suka berterus terang. Karakter itulah yang memunculkan istilah Si Jalak Harupat sebagai julukan bagi Oto Iskandar Di Nata. Si Jalak Harupat adalah sebutan untuk ayam jantan yang kuat, pemberani, bersuara nyaring saat berkokok, dan sebagai ayam aduan ia adalah ayam jago yang sangat sulit dikalahkan.

❖ Pergerakan Nasional

Sejatinya Oto telah aktif berkecimpung di organisasi, salah satunya adalah Muhammadiyah karena ia pernah juga mengajar di sekolah Muhammadiyah. Namun, Muhammadiyah merupakan organisasi yang awalnya merupakan organisasi non politik dan lebih berfokus ke masalah keagamaan dan sosial masyarakat, sehingga tidak digolongkan sebagai organisasi pergerakan.

Di Bandung, Oto masuk Budi Oetomo dan menjabat sebagai wakil ketua sekaligus komisaris/Hoofdbestuur cabang Bandung tahun 1921–1924. Selanjutnya ia dialihkan menjadi wakil ketua sekaligus dewan kota/Gemeenteraad cabang Pekalongan. Oto menjadi tokoh ningrat Sunda yang berada di antara ningrat Jawa (karena Budi Utomo dibentuk oleh mahasiswa STOVIA yang beretnis Jawa).

Pada tahun 1928, Oto bergabung di Paguyuban Pasundan dan langsung menjadi sekretaris pengurus besar organisasi, selanjutnya pada tahun 1929 ia terpilih menjadi ketua umum. Pada masa kepemimpinannya, Paguyuban Pasundan mengalami kemajuan pesat di bidang politik, ekonomi, sosial, pers, dan pendidikan.

Paguyuban Pasundan berdiri di atas dasar keyakinan bahwa bangsa Indonesia pasti merdeka. Oto juga tercatat sebagai anggota Volksraad (Dewan Rakyat) mewakili Paguyuban Pasundan selama tiga periode, yakni 1931-1934, 1935-1938, dan 1939-1942. Ia dikenal sebagai wakil rakyat yang sangat anti pemerintah kolonial dengan sering melontarkan kritik–kritik tajam.

Ketika Hindia Belanda diduduki Jepang pada tahun 1942, Oto beralih profesi menjadi seorang jurnalis dan memimpin surat kabar Tjahaja. Sebelumnya, ia juga pernah terlibat dalam surat kabar Sipatahoenan, surat kabar milik Paguyuban Pasundan yang berisi tentang propaganda pergerakan nasional. Oto juga menjadi salah satu anggota Dokuritsu Junbi Coosakai/Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) dan Dokuristu Junbi Inkai/Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) sebagai pengganti BPUPKI yang bertugas mempersiapkan rencana kemerdekaan Indonesia, karena pada saat itu posisi Jepang yang sudah terdesak oleh Sekutu.

Tak hanya dikenal sebagai aktivis pergerakan, Oto Iskandar Di Nata sangat menyukai sepakbola. Ia pernah bertugas sebagai wasit di kompetisi sepakbola era perserikatan, dan sekaligus menjadi salah satu pengurus Bandoeng Inlandsche Voetbal Bond (BIVB), atau sekarang dikenal dengan Persib Bandung.

❖ Menteri Negara

Setelah Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 tepatnya dalam sidang PPKI tanggal 19 Agustus 1945, Oto mengusulkan agar Soekarno–Hatta secara aklamasi ditetapkan sebagai Presiden–Wakil Presiden, dan usulan tersebut disetujui oleh seluruh anggota sidang. Oto juga merupakan orang yang menganjurkan dan sekaligus menggunakan pekik nasional “Indonesia Merdeka” dengan mengangkat tangan kanannya yang dikepal. Oleh karena pekik tersebut dirasa terlalu panjang, maka kemudian oleh beberapa teman dianjurkan untuk disingkat menjadi satu kata saja, yaitu “Merdeka.” Pekik nasional ini terkenal sampai sekarang.

Selanjutnya, Oto bersama dengan tokoh–tokoh lain seperti Mohammad Amir, Wahid Hasyim, Mr. Sartono, dan A.A Maramis terpilih menjadi terpilih menjadi anggota kabinet dengan posisi sebagai Menteri Negara non portofolio yang bertugas mengurusi berbagai persoalan, salah satunya sektor keamanan termasuk mengkoordinir pembentukan tentara negara yang awalnya bernama Badan Keamanan Rakyat (BKR).

Pembentukan BKR pada saat itu menjadi masalah yang sangat serius karena melibatkan banyak pihak dari latar belakang militer yang beragam, seperti eks anggota PETA dan Heiho bentukan Jepang, eks KNIL bentukan Belanda, dan para laskar–laskar dengan latar belakang yang bermacam–macam.

Tidak semua pihak setuju dengan upaya penyatuan para eks tentara dengan latar belakang yang beragam tersebut menjadi satu tubuh BKR. Mereka yang tidak sepakat kemudian membentuk laskar-laskar sendiri yang seringkali berkonflik satu sama lain. Mereka cenderung tidak menyukai gaya diplomasi untuk peralihan pemerintahan sepenuhnya dari Jepang seperti yang diusahakan oleh Oto dan pemerintahan Republik dan memilih bertindak lebih frontal. Kendati belum sepenuhnya terbukti, hal ini lah yang disinyalir menjadi penyebab nasib nahas yang nantinya akan menimpa Oto.

❖ Misteri Kematian

Berita kematian Oto Iskandar Di Nata simpang siur, dan terkadang menjadi perdebatan. Terlebih lagi jika menjelang tanggal 30 September yang menjadi agenda tiap tahun perdebatan setiap orang terutama di kalangan pengguna media sosial.

Suatu hari di Jalan Kapas No. 2 pada Desember 1945, Sanusi Hardjadinata tengah berbincang akrab dengan Oto ketika beberapa pemuda mendatangi mereka berdua. Setelah berbincang sebentar, para pemuda yang nampaknya berasal dari satu kelompok laskar tersebut kemudian membawa Oto entah kemana. Oto lenyap. Sejak itulah Oto menghilang dari peredaran.

Berdasarkan kesaksian Mujitaba bin Murkam (salah seorang anggota Laskar Hitam yang menjadi satu-satunya pelaku yang diadili pada 16 Agustus 1958 atas kasus kematian Oto), para pemuda itu membawa Oto ke Rumah Tahanan Tanah Tinggi. Dari situ, dia lantas dipindahkan ke penjara polisi di Tangerang. Oto kemudian diserahkan kepada Laskar Hitam dan ia dieksekusi pada pertengahan Desember 1945 di suatu tempat di pantai daerah Mauk, Tangerang, Banten.

Kematian Oto meninggalkan misteri lain bagi Laskar Hitam, menurut sejarawan Iip D. Yahya dalam bukunya yang berjudul Oto Iskandar Di Nata: The Untold Story, Laskar Hitam merupakan unit khusus dari Pasukan Berani Mati pimpinan Abdullah, salah satu pendukung kuat Achmad Chairun, seorang komunis yang mendirikan Republik Tangerang pada 18 Oktober 1945. Belakangan gerakan separatis itu kemudian berhasil ditumpas oleh Indonesia.

Sejarawan Rushdy Hoesein juga mendukung pendapat Iip. Kendati tidak menutup kemungkinan terdapat nuansa ideologi komunis, tetapi dia memiliki pendapat bahwa Laskar Hitam tak sepenuhnya bercorak ideologis dan lebih cenderung kental warna kriminalnya. Terlebih lagi pada waktu itu di wilayah Tangerang terkenal dengan para jago, garong, dan penyamun bersenjata.

Dalam kasus pembunuhan Oto, Iip meyakini bahwa Laskar Hitam hanyalah pelaku lapangan. Itu terbukti dari ketidaktahuan mereka kepada Oto yang merupakan salah satu orang penting di Republik Indonesia. Anggota Laskar Hitam yang menculik Oto tersebut, menurut Iip, termakan desas-desus yang disebarkan agen-agen NICA bahwa Oto adalah mata-mata Belanda. Tujuan NICA menyebarkan isu ini tentu saja untuk menyingkirkan orang-orang yang dianggap menghalangi upaya rekolonisasi Belanda. Ada juga pendapat lain jika Oto menguasai uang dengan jumlah yang sangat banyak hasil pemberian Jepang, sehingga hal tersebut membuat para penculik berniat untuk merampoknya.

Tuduhan Oto sebagai mata–mata Belanda tentu sangat tidak masuk akal, karena Oto yang sangat republiken dan loyal kepada Sukarno-Hatta, hal tersebut sangat jauh panggang dari api. Oto tak lebih dari korban intrik politik saat itu. Pendapat Iip diperkuat oleh Atih Amini, salah seorang putri Oto, yang mengatakan bahwa sebelum terjadinya penculikan tersebut, dalam sepucuk surat kepada ibunya (istri Oto) Raden Ajeng Sukirah, sang ayah mengeluhkan dirinya sedang difitnah seseorang yang tidak dikenal.

Sejarawan Asvi Warman Adam berpendapat bahwa Laskar Hitam tidak memiliki ideologi yang jelas. Mereka menculik orang-orang yang dianggap mata-mata Belanda atau Jepang. Asvi pun tidak melihat kaitan antara Laskar Hitam dengan Partai Komunis Indonesia (PKI). Apalagi, dalam persidangan, hakim hanya mengusut Mujitaba.

Dalam wawancara bersama CNN Indonesia, Asvi Warman Adam juga menyebut buku berjudul Ayat-Ayat yang Disembelih karya Anab Afifi dan Thowaf Zuharon adalah salah satu buku yang berkaitan dengan tragedi 1965 yang menyesatkan karena isinya tidak jelas dan tidak dapat dipastikan kebenarannya. Buku itu menceritakan tentang tragedi yang terjadi di Brebes, Tegal, dan Pemalang dalam revolusi sosial setelah 1945. Tokoh utama dalam cerita itu adalah Kutil alias Sahyani yang digolongkan sebagai anggota PKI. Padahal, dalam disertasi Anton Lucas, seorang peneliti berkewarganegaraan Australia, Kutil disebut sebagai preman yang memiliki padepokan. Dia dipanggil Kutil karena memiliki penyakit kulit berupa kutil di wajahnya. Asvi tidak yakin apakah Kutil benar-benar preman atau kyai.

❖ Penghargaan

Jenazah Oto tidak pernah ditemukan setelah kematiannya, maka dari itu pada 20 Desember 1952 diadakan upacara “pemakaman” Oto Iskandar Di Nata di Bandung. Peti mati yang di kerumuni oleh ribuan warga Bandung tersebut tidak berisi jenazahnya, melainkan berisi pasir dan air laut pantai Mauk, Tangerang, Banten yang konon menjadi lokasi ia menghembuskan nafas terakhir. Peti tersebut akhirnya dimakamkan di Lembang, Bandung.

Atas jasa–jasanya, Oto Iskandar Di Nata ditetapkan sebagai pahlawan nasional berdasarkan Keputusan Presiden No. 088/TK/1973 tanggal 6 November 1973. Sosok Oto Iskandar Di Nata juga diabadikan di uang pecahan 20 ribu emisi tahun 2010. Namanya diabadikan sebagai nama jalan di berbagai tempat, juga sebagai nama Stadion Si Jalak Harupat, markas klub Persib Bandung.

Historia Magistra Vitae.
Sejarah adalah guru yang terbaik.

Sumber : 
1. Lubis, Nina Herlina. 2002. Peristiwa Terbunuhnya Menteri Negara Oto Iskandar Di Nata Desember 1945. Bandung: Jurnal Sosiohumaniora Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Kebudayaan Lembaga Penelitian Universitas Padjajaran Vol. 4 No. 3. DOI: https://doi.org/10.24198/sosiohumaniora.v4i3.5270.
2. Adryamathanino, Verelladevanka. 4 Mei 2021. Oto Iskandar Di Nata : Kehidupan, Budi Utomo, dan Penculikan. Kompas. Tautan : https://www.kompas.com/stori/read/2021/05/04/182731879/oto-iskandar-di-nata-kehidupan-budi-utomo-dan-penculikan?page=all#page2 (diakses pada 7 Mei 2021).
3. Johari, Hendri. 9 Oktober 2020. Kisah Pembunuh Si Jalak Harupat. Historia. Tautan : https://historia.id/politik/articles/kisah-pembunuh-si-jalak-harupat-PNLRW/page/4 (diakses pada 7 Mei 2021).
4. Kandhani, Edi. 20 Desmber 2019. Sejarah 20 Desember : Wafatnya “Si Jalak Harupat” Otto Iskandar Dinata. Bosscha.ID. Tautan : https://bosscha.id/2019/12/20/sejarah-20-desember-wafatnya-si-jalak-harupat-otto-iskandar-dinata/ (diakses pada 7 Mei 2021).
5. Ningtyas, Ika. 30 September 2020. [Fakta atau Hoaks] Benarkah Otto Iskandar Dinata  Tewas oleh Laskar Hitam yang Terkait PKI ?. Tempo. Tautan : https://cekfakta.tempo.co/fakta/1033/fakta-atau-hoaks-benarkah-otto-iskandar-dinata-tewas-oleh-laskar-hitam-yang-terkait-pki (diakses pada 7 Mei 2021).
6. Raditya, Iswara N. 20 Desember 2017. Otto Iskandar Dinata : Misteri Kematian Jagoan dari Bojongsoang. Tirto. Tautan : https://tirto.id/otto-iskandar-dinata-misteri-kematian-jagoan-dari-bojongsoang-clXi (diakses pada 7 Mei 2021).
7. Tim Admin. 2016. Otto Iskandardinata, Penggagas Salam Nasional “Indonesia Merdeka”. Jakarta Smart City. Tautan : https://smartcity.jakarta.go.id/blog/80/otto-iskandardinata-penggagas-salam-nasional-indonesia-merdeka (diakses pada 7 Mei 2021).
8. Tim Admin. ____ . [DISINFORMASI] Otto Iskandar Dinata Tewas oleh Laskar Hitam yang Terkait PKI. Kementerian Komunikasi dan Informatika. Tautan : https://kominfo.go.id/content/detail/29869/disinformasi-otto-iskandar-dinata-tewas-oleh-laskar-hitam-yang-terkait-pki/0/laporan_isu_hoaks (diakses pada 7 Mei 2021).
9. Tim Admin. ____ . Pahlawan Nasional Otto Iskandardinata. Ikatan Keluarga Pahlawan Nasional Indonesia. Tautan : http://ikpni.or.id/pahlawan/otto-iskandardinata/ (diakses pada 7 Mei 2021).

Sumber Foto: KAPOL.ID
loading...

Post a Comment

0 Comments