PERNYATAAN SIKAP FORUM LINGKAR PENA (FLP) Terkait Penyerangan Israel ke Penduduk Sipil Palestina



PERNYATAAN SIKAP FORUM LINGKAR PENA (FLP) 
Terkait Penyerangan Israel ke Penduduk Sipil Palestina

Penjajah Israel kembali melakukan tindakan-tindakan biadab yang tidak berperikemanusiaan. Terlebih tindakan-tindakan itu dilakukan di bulan suci Ramadhan yang lalu. Mulai dari pengusiran warga Palestina di daerah Sheikh Jarrah - Al Quds Timur, hingga aksi-aksi kekerasan tentara Zionis Israel di Masjid Al Aqsha. Berupa penutupan gerbang Al Amud pada 10 Ramadhan, mobilisasi Yahudi ke Masjid Al Aqsha melalui pintu al Magharibah dan menutup pintu Silsilah pada 26 Ramadhan, serta menyerang jama’ah shalat tarawih dan i’tikaf di Masjid Al Aqsha pada 27 dan 28 Ramadhan. Semua tindakan itu mengakibatkan bentrokan, mengorbankan ratusan jiwa warga Palestina hingga ribuan terluka.

Tindakan biadab penjajah Israel di areal Masjid Al Aqsha ini adalah tindakan biadab kesekian kalinya. Tindakan yang menjadi pemicu jatuhnya ratusan korban jiwa dan ribuan orang terluka, bahkan hilangnya fasilitas-fasilitas sipil. Sebab Masjid Al Aqsha adalah garis merah bagi umat Islam, yang bila dinistakan oleh penjajah maka akan menyulut kemarahan umat Islam di manapun berada. Baik di Tepi Barat maupun di Jalur Gaza, baik di dalam Palestina maupun di luar Palestina. Sayangnya, penjajah Israel justru membalas kemarahan umat Islam di Palestina karena ulah penjajah Israel yang semena-mena menodai Masjid Al Aqsha di Ramadhan kemarin dengan serangan membabi-buta ke warga sipil Palestina. Oleh karena itu, Forum Lingkar Pena (FLP) menyatakan sikap sebagai berikut:

1. Tindakan semena-mena Zionis Israel di tanah Palestina hingga hari ini adalah bentuk penjajahan. Dimulai dengan aneksasi wilayah Palestina secara bertahap, sejak penyerahan tanah Palestina sepihak oleh Inggris melalui Janji Balfour 1917, lalu pendirian negara Israel di tanah Palestina tahun 1948 yang dilanjutkan dengan tragedi Nakba (malapetaka) pengusiran paksa 700 ribu warga Palestina, lalu perang 6 hari pada 1967 yang penuh tipu muslihat penjajah Israel, hingga usaha memindahkan ibukota negara penjajah dari Tel Aviv ke Al Quds (Jerusalem) jantung Palestina.

2. FLP bersikap sebagaimana amanat konstitusi Indonesia bahwa penjajahan di atas dunia harus dihapuskan. Maka, sebagaimana Ir. Soekarno telah mengawali langkah usaha memerdekakan Palestina, FLP beserta segenap anak bangsa Indonesia akan melanjutkan perjuangan untuk membantu bangsa Palestina mendapatkan kemerdekaannya dari penjajahan. Dan karena itu pula, semua tindak penjajahan yang dilakukan oleh Israel tidak dapat dibenarkan.

3. Dalam proses menuju kemerdekaan Palestina, FLP memandang bahwa semua pelanggaran HAM yang telah dilakukan oleh penjajah Zionis Israel berupa penyerangan ke warga sipil hingga mengorbankan kaum perempuan dan anak-anak, harus diadili di Mahkamah Internasional.

4. FLP sebagai organisasi yang bergerak di bidang literasi, mendorong kepada Dewan Keamanan PBB untuk menghentikan tindakan-tindakan kekerasan yang dilakukan oleh penjajah Zionis Israel di kota tua Al Quds sebagai Warisan Budaya Dunia yang terdaftar di UNESCO. Sebab akan membahayakan peninggalan sejarah di sana, dan menodai kesepakatan-kesepakatan yang telah diputuskan di majelis terhormat PBB.

5. FLP mengajak kepada seluruh penulis dan pegiat literasi di manapun berada, untuk menjadikan tulisannya dan produk-produk tulisan apapun, sebagai sarana pendidikan tentang nilai-nilai sejarah dan kemuliaan yang dimiliki oleh Masjid Al Aqsha, Kota Al Quds, serta Palestina sebagai tanah para Nabi. Hal ini perlu dilakukan mengingat penjajah Zionis Israel tidak hanya melakukan penjajahan dengan kekuatan militer yang menyerang fisik warga Palestina, namun juga dengan kekuatan media yang menyerang pemikiran umat manusia di manapun berada.

6. FLP juga akan menggalang donasi secara bertahap untuk meringankan beban saudara-saudara di Palestina, sebagaimana mereka dahulu turut berdonasi meringankan beban bangsa Indonesia saat masih dijajah. Namun kepedulian ini bukan semata-mata balas budi, melainkan merupakan tanggungjawab konstitusi yang mengamanahkan agar kemerdekaan Indonesia dapat turut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial. 

Demikianlah pernyataan sikap ini kami sampaikan. Untuk menjadi maklumat bagi seluruh anggota FLP, juga para penulis yang peduli pada kemanusiaan, serta segenap pegiat literasi di manapun berada. 


Jakarta, 16 Mei 2021
Afifah Afra
Ketua Umum
loading...

Post a Comment

0 Comments