Lahirnya Sebuah Tulisan






  Bit.ly/catatanFahrizal

Kalimatnya kurang padat, tanda bacanya kacau, diksinya banyak yang tak tepat, dan lain sebagainya.

Ternyata ada yang sebegitu sadis menanggapi tulisan yang dibuat oleh anggota baru, yang menyelesaikan tulisan pertamanya.

Namun bisa dimaklumi, karena yang menanggapinya memang penulis handal, dan seorang editor yang terbiasa sadis. Namun ia bukan orang jahat kok.

Sayangnya, tidak semua bisa menerimanya. Bisa jadi muncul perasaan rendah diri, yang akhirnya justru memilih berhenti untuk mengembangkan potensinya. Sebab, baru menyajikan tulisan pertama saja, sudah dihabisi.

Saya juga demikian. Sering mendapat koreksi, bahkan dari adik kelas dan teman sejawat. Terutama koreksi soal tanda baca dan kata tidak baku.

Tiba-tiba ia mengomentari jika kata ini yang baku begini, lalu mengomentari jika ini harusnya koma atau titik. Ada juga yang mengomentari letak huruf besar, atau penulisan kata kerja dan keterangan tempat yang benar.

Karena saking seringnya ia mengoreksi, saya sampai menjawab begini : maaf ya kalau tulisanku banyak yang belum tepat.

Lalu, tiba-tiba dia menjawab demikian : aku juga hanya bisa koreksi, belum tentu juga bisa buat tulisan seperti itu.

loading...
Koreksi itu bisa untuk perbaikan, juga sekaligus menandakan bahwa tulisan kita diperhatikan. Namun tidak semuanya harus diikuti.

Misalnya, untuk kata baku. Tulisan untuk website atau media populer itu kadang memang harus lebih santai. Tidak bisa seperti makalah. Sebab kalau terlalu kaku, nanti tidak ada yang baca. Karena terkesan formal.

Agar terasa santai itu, kadang kita musti menggunakan banyak kata yang tak baku, seperti kata yang digunakan untuk percakapan keseharian.

Artinya, koreksi itu akan selalu ada. Bahkan tulisan dari penulis handal bin sadis itupun, kalau mau kita cari kesalahannya, pasti ketemu. Tidak ada tulisan yang benar-benar sempurna. Sekali lagi, tidak ada tulisan yang benar-benar sempurna.

Tulisan pertama yang dihasilkan anggota baru komunitas menulis itu, patut dihargai dan diapresiasi. Sebab kita tak tahu seberapa waktu yang ia habiskan untuk menyelesaikannya, seberapa keras ia berpikir untuk meracik ide dan kalimat, seberapa cangkir kopi atau teh yang tandas ia sesap demi terwujudnya tulisan pertama itu.

Dalam komunitas kepenulisan, sebuah karya yang dikoreksi, atau mungkin dihabisi, jauh lebih baik daripada yang tak pernah dikoreksi dan dihabisi karena tak pernah menghasilkan tulisan pertamanya. []

Blitar, 20 Juni 2019
loading...

Post a Comment

0 Comments