Rutinan FLP Blitar, Tradisi Sejak Juli 2008




Pertemuan mingguan FLP Blitar sudah berlangsung sejak bulan Juli 2008, bahkan ketika FLP Blitar belum diresmikan secara formal. Itu berarti, sudah lewat satu dasawarsa.

Awalnya, pertemuan digelar hari Jumat. Lokasinya, kadang di serambi Masjid Syuhada' Haji, kadang di Perpustakaan Manca Kebonrojo. 

Aku yang kala itu masih kelas XI Aliyah, berangkat dari sekolah dengan beberapa teman. Seingetku ada 4 orang teman dari sekolah. Kami masih berseragam.

Setelah diresmikan pada 31 Agustus 2008, entah mulai kapan tepatnya, pertemuan dialihkan hari Ahad di Selasar Perpustakaan Bung Karno. Mungkin karena banyaknya pendaftar baru. Pertemuan yang biasanya siang juga berganti pagi.

Setelah itu, sepertinya pertemuan tetap hari Ahad, sampai aku pindah ke Malang selama tujuh tahun dan tidak lagi aktif, hanya sekali dalam kurun waktu tujuh tahun itu aku datang ke acara FLP Blitar sebagai moderator acara di Unisba.

##
Suasana rutinan di selasar, awal 2017


Masuk tahun 2015, pertemuan mingguan kembali digelar, meski segelintir orang yang datang. Awalnya hari Jumat juga, lalu pindah hari Ahad, sampai sekarang.

Dari 2015-2016, pertemuan diisi bedah karya yang diselingi materi. Ketika ada project antologi cerpen, karya yang dibedah adalah cerpen yang akan diterbitkan menjadi antologi.

Konsep rutinan sedikit diperbaharui pada 2017 dan seterusnya, karena banyaknya anggota baru. Mulai dibuka materi menulis, dan berikutnya kelas-kelas. Suasananya jadi sedikit formal.

Bayangkan, pertemuan mingguan yang awalnya semacam nongkrong biasa membahas karya penulis terkemuka, atau ruang sharing dari karya yang dibuat antar anggota, berubah menjadi forum belajar semi formal.

Namun itu karena kebutuhan organisasi, sebab menyesuaikan anggota, ada yang sudah biasa berkarya ada yang masih mau mulai.

Selain itu, pertemuan yang awalnya hanya sekali dalam seminggu, menjadi dua kali bahkan lebih. Karena harus bertemu untuk khusus membahas organisasi, atau bertemu per kelas masing-masing.

Bayangkan, FLP Blitar yang mulanya semacam komunitas hobi, akhirnya berubah menjadi organisasi formal dengan beragam agenda, terutama ketika FLP Jatim mulai aktif. FYI, awal 2015 saat FLP Blitar kembali aktif, FLP Jatim dalam kondisi vakum.

Sekarang, selain banyak agenda internal yang harus diurusi, dengan struktur yang lebih padat, kadang juga dituntut untuk mengikuti agenda dari FLP tingkat Provinsi dan Nasional. Sangat padat, bukan?

Akhirnya, mengelola FLP Blitar sekarang tidak lagi sekadar mengelola komunitas hobi, namun juga organisasi formal dengan segala urusan strukturalnya.

Tradisi baik yang perlu dilestarikan
Rutinan di Perpustakaan Bung Karno Lt. II


Pertemuan mingguan adalah tradisi baik, bahkan saking lamanya berkecimpung di FLP Blitar, tiap hari Ahad aku selalu terpikir rutinan FLP Blitar. Anda bayangkan, sejak 2015 hingga sekarang. Sudah ratusan kali rutinan digelar, otomatis tersistem dalam jadwal harian.

Hari Ahad seperti "pertemuan paten" untuk FLP Blitar. Pertemuan lain diluar hari itu, tak banyak berkesan. Setidaknya, dalam tujuh hari ada satu hari khusus untuk belajar menulis, itupun paling hanya 2-3 jam.

Jika seminggu ada 168 jam. Cukup menyisihkan 3 jam untuk FLP Blitar, masih tersisa 165 jam untuk aktivitas lainnya. Sebenarnya tidak sulit, hanya soal prioritas dan kesungguhan.

Tradisi bertemu, membahas suatu ilmu/skill, berbagi pengetahuan adalah tradisi baik yang perlu dilestarikan.

Hiburan akhir pekan
Suasana rutinan di Taman Sentul, Kota Blitar


Pertemuan mingguan seperti hiburan akhir pekan, sudah bukan lagi tuntutan. Harusnya memang begitu.

Kadang-kadang aku menyarankan ke suatu kafe atau tempat nongkrong yang representatif. Hedon sekali ya? Ah tidak juga, toh kita paling hanya memesan segelas minuman dan kadang semangkok snack. Anggap saja kompensasi dari hiburan.

Lagipula, yang kita bahas adalah hal bermanfaat, bukan dugem atau karaoke plus plus. Dengan suasana kafe yang informal, bahkan dengan view atau desain lokasi yang menarik, membuat obrolan bisa lebih asyik.

Dalam pertemuan rutin itu, banyak yang dipelajari, tidak saja materi kepenulisan. Ada yang belajar jadi MC, Moderator, kultum, notulen dan narasumber. Ada praktek setelahnya. Entah seberapa manfaat yang sudah berlangsung sejak rutinan digelar.

Ada karya-karya diciptakan, dibahas, dikomentari. Jangan lupa juga, ada passion yang terwadahi, ada ruang untuk beraktualisasi, yang menurut Abraham Maslow, dalam hierarchy of needs, ruang berkarya atau aktualisasi adalah kebutuhan dasar kelima jika orang ingin berkembang.

Artinya, manusia butuh bertemu dengan orang lain dalam suatu wadah yang saling menghargai ide, karya dan intelektualitasnya. []

Blitar, 15 Juni 2021
Ahmad Fahrizal Aziz
loading...

Post a Comment

0 Comments