Lulus SMA, Kuliah Setahun, Lalu Bekerja dengan Gaji Lumayan?

loading...

loading...
Salah satu mahasiswa yang berhasil mendapatkan sertifikat dari google ads.
____
Obrolan bersama pengelola kampus digital marketing di Kota Blitar

Rabu, 8 April 2020

Kemana setelah lulus SMA, bingung? Kerja apa? Kuliah S1 pun juga terlalu lama. Males banget dengan tugas-tugas makalah dan sejenisnya. Duh.

Mungkin itu problematika yang banyak dialami generasi muda saat ini, terutama yang akan lulus SMA/MA/SMK. Mau kerja tak tahu harus kerja apa, mau kuliah juga dirasa terlalu lama, dan membayangkan tugas yang bejibun.

Padahal, ini era digital. Kemampuan dalam bidang digital sangat diperlukan. Kreatifitas sangat terwadahi, peluang kerja dalam bidang digital juga sangat banyak, yang kurang adalah keahliannya.

Kini banyak orang menggunakan “benda ajaib” bernama ponsel pintar di tangannya masing-masing, banyak hal bisa diakses lewat ponsel pintar tersebut, mulai dari informasi, gambar, video, hingga mencari jejaring dan kenalan.

Sehingga, keahlian dalam membuat konten digital sangat diperlukan, seperti desain poster, edit video, mengelola website, hingga pemograman dasar, web-development, digital marketing dan sebagainya.

Sayangnya, untuk bisa menjadi seorang kreator digital, harus punya peralatan yang mendukung, misalnya seperti laptop khusus untuk multimedia. Ada alat, juga masih perlu keahlian, belajar ke siapa? Kalaupun ada, kursusnya pasti mahal.

Beberapa lembaga kursus mematok harga tinggi, bahkan kisaran 4-6 juta hanya untuk beberapa hari.

Mahal. Karena keahliannya juga mahal, yang membutuhkannya pun banyak, wadahnya terbuka lebar di era sekarang ini. Maka sekalipun mahal tetap saja ramai peminat, apalagi kursus keahlian yang sedang jadi tren dan prospek masa depannya cerah.

Sebenarnya, kuliah S1 pun juga mahal, jika dikalkulasi selama 4 tahun. Belum biaya kos, makan harian, dan tugas-tugas.

Namun ada kampus yang mendedikasikan diri untuk menggelar sekolah semacam itu, sekolah digital marketing yang hanya setahun. Mahasiswa yang bergabung pun diberikan laptop multimedia, yang mendukung untuk proses perkuliahan.

Kampus ini menyebut sebagai Kampus digital marketing, pertama dan satu-satunya di Indonesia. Memang tidak (atau belum) ada kampus serupa. Uniknya, kampus ini berada di Kota Blitar, kota yang lengang, sepi, dan tenang, dengan biaya kebutuhan hidup yang masih terjangkau dibandingkan kota-kota besar rujukan mahasiswa untuk kuliah.

“Sebenarnya kami kewalahan menerima tawaran,” ujar Yopi Yafrin, salah satu pengelola kampus ini.

Banyak mitra perusahaan yang membutuhkan jasa khusus terkait digital marketing. Salah satunya Malang Strudel yang terkenal itu. Hanya saja, orang yang ahli untuk mengurus ini masih sangat sedikit. Akhirnya team memutuskan untuk membuat kuliah khusus digital marketing.

“Awalnya sih kursus saja, tetapi ternyata banyak yang berharap ini tidak hanya kursus, namun bisa setara diploma, sementara kita baru bisa mengajukan D1, kedepan akan D3 bahkan S1,” Lanjut Yopi.

Karena D1, tentu hanya ditempuh setahun. Namun perkuliahan efektif ternyata hanya 6 bulan saja, sisanya adalah Magang alias praktek langsung pada mitra perusahaan tersebut.

“Praktek itu dibayar juga lho, bahkan ada yang disediakan mes (penginapan) juga. Nantinya juga akan dikontrak secara profesional selama setahun pasca lulus,” Terang Yopi.

Jadi ini semacam kursus semi kerja, yang dibingkai dalam satu bentuk perkuliahan dan ada ijazahnya. Tidak hanya teori dalam ruang-ruang kelas, namun juga praktek langsung di lapangan, serta digaji secara profesional.

“Dari semua mahasiswa nanti, ada satu yang dipilih sebagai wisudawan/i terbaik. Kriterianya yang paling rajin masuk kuliah. Wisudawan terbaik ini akan mendapatkan grand prize 25 juta, jadi ibaratnya dia balik modal plus plus,” Jelasnya terkekeh.

Lalu bagaimana kalau setelah lulus tidak dikontrak bekerja? Tanya saya disela perbincangan ketika berkunjung ke kantornya, tentu ini jadi pertanyaan banyak orang yang tertarik mendaftar.

“Uang kembali, kita tanda tangan di depan notaris, jadi nggak maen-maen,” Tegasnya.

Melihat fenomena ini, saya jadi teringat kampung Inggris di Pare, Kediri. Tempat kursus yang hanya semusim itu menjadi alternatif banyak orang di seluruh Indonesia untuk mengasah kemampuan bahasa Inggrisnya, sehingga kini jadi sangat terkenal, lembaga kursus banyak bermunculan.

Kampus digital marketing pertama kini juga hadir di Blitar, belum ada duanya, termasuk apa yang kini ditawarkannya. Bisa jadi kedepan untuk belajar digital marketing, Kota Blitar bisa jadi rujukan.

Lalu berapa biayanya?

Yopi pun menyodorkan saya sebuah brosur. Untuk biaya pendaftaran hanya Rp150.000, biaya daftar ulangnya Rp6.850.000, lalu biaya pendidikannya selama setahun Rp14.800.000, bisa diangsur.

Jadi berapa totalnya? Rp 21.800.000

Hmm.. lumayan juga ya? Pikir saya. Namun itu sekaligus fasilitas laptop multimedia tadi, yang kisaran harganya sekitar 5 Juta. Jadi anggap saja dari total itu dikurangi 5 juta. Tinggal 16.800.000.

Biaya itu mungkin tak ada artinya jika mahasiswa yang bersangkutan menjadi wisudawan/i terbaik, yang mendapatkan 25 juta. Atau ia mendapatkan prestasi sehingga ada potongan alias beasiswa akademik.

Jika nantinya magang dan dikontrak kerja, tentu saja bisa “balik modal”, jika ini dianggap seperti bisnis. Namun anggap saja ini investasi, ilmu itu mahal, keahlian tidak bisa diukur dengan uang, apalagi digital marketing sedang jadi primadona, banyak lowongan kerja yang membutuhkan keahlian dalam bidang ini.

“Kita ini seperti sedang mempersiapkan pasukan khusus, atau kopassus dalam bidang digital marketing,” Pungkas Kurniawan Subiantoro, yang adalah CEO Founder kampus digital Marketing ini.

Kampus ini bernama Argia Academy, lebih lanjut silahkan anda pelajari brosur di bawah ini :

BACA JUGA :


loading...

Post a Comment

0 Comments