Sebilang Rindu






Sore itu gerimis, aku yang duduk terdiam melihat seorang disampingku bermain gawai dengan asyiknya. 

Entah kenapa hari itu terasa magis. Hujan yang semestinya rindang malah hadirkan tangis. Dua orang duduk bersandingan namun tanpa bertegur sapa. 

Tak bisa dipungkiri, aku yang menatap penuh ingin dibalik kesedihan, sedang kau bermain instagram sambil bersiaran. 

Dengan asyiknya, kau yang sedang bersiar tanpa sungkan menghubungi lelaki lain. Apakah kau tak sadar bahwa aku sedang meunggumu berkata? Yang setelah sekian lama tak berjumpa. Namun sayang, sekalinya jumpa tanpa bersua.

Dalam dinding kecemasan aku menyiratkan cemburu. Rinduku angin, sejuk menghembus lembut namun tidak memberi kehangatan. Yang tiap hari berlapis tanpa mengenal musim.

Saat itu aku memuaskan menatap mu. Sebelum nantinya jenuh datang menghampiri ku.

Satu kisah yang saat itu sedang ku upayakan. Ketika langit masih tetap dengan mendungnya, kami berpindah tempat. 

Memesan makanan sambil berbincang pasti enak, gumamku. Namun ternyata tidak, kau masih tetap sama. 

Memainkan gawaiku yang sedang kau genggam rapat. Aku mencoba untuk menyapa mu lirih. Namun, sekali lagi kau balas dengan pedih.

Mungkin masih kurang? Hujan membasahiku dengan derasnya sedang mantelku saat itu kau kenakan. Serasa dingin. Hujan membasahi tubuhku. Bahkan juga hatiku. Yang Tersendu-sendu karena menahan perihnya pilu.

Pesanan dihidangkan. Sebenarnya aku tak tau. Apakah makanan ini sengaja kupesan untuk menghilangkan laparku atau hanya caraku untuk lebih dekat denganmu.

Sebab, aku tau yang dibutuhkan rindu bukanlah sekedar pertemuan yang semu. Namun, sebuah kebersamaan penuh makna dan kebersamaan yang tanpa sekat dan  tanpa karena apa. []

(hnv)


loading...

Post a Comment

0 Comments