Marmin Siswojo (Pak Sis), Pengusaha dan Pendakwah Islam Legendaris di Blitar




Marmin Siswojo, Mata Air Keteladanan dalam Dakwah dan Ekonomi

Sebelum dikenal sebagai Pengusaha besar, H. Marmin Siswojo, atau yang akrab disapa Pak Sis, adalah seorang guru SR. Dinas pertamanya di SR Banaran, Desa Doko, yang kala itu masih menjadi bagian dari Kecamatan Wlingi, Kabupaten Blitar. Setelah itu ia pindah ke SD Ngade, di Kecamatan Kanigoro, yang lokasinya tak jauh dari kampung halamannya di Jatinom.

Di sela mengajar itu, Siswojo juga membuka usaha sembako bersama 3 teman gurunya. Usaha itu berjalan lancar hingga bisa membiayai sekolahnya di SGA (Sekolah Guru Atas), lalu ia melanjutkan ke PGSMP jurusan Biologi agar bisa menjadi guru SMP.

Sebelum Siswojo terjun ke bisnis peternakan, ia terlebih dahulu sukses sebagai penjual Gaplek, makanan yang terbuat dari ketela. Keberhasilannya berjualan Gaplek itulah yang menyadarkannya betapa penting berbisnis sebagai penopang ekonomi.

Malah, ia sempat gagal total dalam bisnis peternakan ayam. Kala itu, ia membeli 40 ekor ayam dan banyak yang mati, hanya tersisa 2 ekor saja.

Pak Sis dalam acara Safari Ramadan di Masjid Attaqwa Muhammadiyah Sutojayan.

Berawal dari membaca majalah

Niat Siswojo untuk beternak ayam kembali muncul setelah membaca sebuah artikel di Majalah berbahasa Jawa, Penyebar Semangat. Kala itu ada artikel berjudul: Misah Kutuk Sakwise Netes (Memisah anak ayam dari induknya setelah menetas).

Teori itu berhasil ia aplikasikan dengan baik sehingga kiprahnya di bidang peternakan terus berkembang, hingga sampai ke telinga Gubernur Jawa Timur kala itu, Sunandar Priyo Sudarmo. Sang Gubernur pun pergi ke Blitar untuk meninjau langsung bisnis Siswojo dan kelompok usahanya.

Dari seorang guru dan kepala sekolah, Siswojo pun menjelma sebagai pengusaha handal dan mendirikan PT. Jatinom Indah Group dengan berbagai bidang usaha dari peternakan, pertanian, otomotif hingga kuliner.

Saat memulai beternak ayam, ia memiliki slogan bisnis yang legendaris: saya untuk ayam, ayam untuk ayam, ayam untuk saya.

Pak Sis dan Istri (berkerudung pink)

Berkiprah di Muhammadiyah

Marmin Siswojo memilih Muhammadiyah sebagai organisasi dakwahnya. Sejak di Pemuda Muhammadiyah, Pria kelahiran Blitar 15 Februari 1939 itu terkenal sebagai pejuang yang tangguh.

Zainal Arifin, sekretaris PDM Kabupaten Blitar sejak periode Marmin Siswojo, mengenang sosok Pak Sis sebagai seorang leader sekaligus manajer yang handal. Suatu ketika, ia diminta khusus oleh Pak Sis untuk mengirimkan data warga Muhammadiyah. Pak Sis ingin melihat potensi kekuatan Muhammadiyah di Blitar.

"Saat itu, sepertinya Pak Sis berencana untuk lebih aktif lagi di Muhammadiyah setelah bisnisnya mulai dikelola oleh anak-anaknya," ungkap Zainal Arifin.

Karena dedikasinya yang tinggi itulah Pak Sis kemudian terpilih menjadi ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Blitar Raya periode 2000-2005 dan selama dua periode mejabat ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Blitar 2005-2015 pasca pemekaran wilayah kota dan kabupaten.

Agenda rapat kerja pimpinan Muhammadiyah kabupaten Blitar.

Menjadi Direktur Rumah Sakit Aminah

Namun sebelum menjadi ketua PDM, Pak Sis pernah ditunjuk sebagai Direktur Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) Aminah Blitar 1995-2000. Kala itu, Direktur tak harus dokter, namun tetap ada posisi dokter penanggung jawab.

Sunan Mahmud, Kabag Umum RSI Aminah yang juga Bendahara PDM Kabupaten Blitar menjelaskan, berkembangnya RS Aminah hingga sekarang tak lepas dari peran Pak Sis.

Sunan Mahmud bercerita, saat itu Pak Sis sendiri merasa tidak seharusnya menduduki posisi tersebut, namun Rumah Sakit kala itu perlu sentuhan seorang manajer handal seperti beliau.

"Pak Sis selalu berkata, saya ini tidak pas (jadi direktur)," kenangnya.

Namun demikian, tangan dingin Pak Sis mampu membuat RS Aminah berkembang pesat hingga membuka Rumah Sakit Umum.

Hal itu berawal dari banyaknya persalinan tak normal yang akhirnya dirujuk ke Rumah Sakit sebelah. Pak Sis kemudian bertanya ke bagian administrasi terkait sirkulasi tersebut dan akhirnya memutuskan untuk membangun ruang operasi agar bisa ditangani sendiri oleh RSIA Aminah. Setelah itu pendapatan RS meningkat pesat karena fasilitas yang semakin lengkap.

Tak hanya itu, Pak Sis juga mulai menata manajemen. Mulai ada pencatatan yang rapi terhadap karyawan, termasuk peningkatan kapasitas dan sumber daya manusia.

"Saat itu masih MKKM Pimpinan Wilayah, bapak H. Syamsul Islam sering diundang untuk membekali kami (pengelola rumah sakit)," ungkap Sunan.

Sekarang, Rumah Sakit Aminah menjadi salah satu rumah sakit swasta yang bergengsi di Blitar dan sudah berkembang menjadi Rumah Sakit Umum dan Rumah Sakit Islam.

Keberpihakan pada kaum yang lemah

Pak Sis sangat peduli dengan orang-orang miskin, atau kaum yang lemah secara ekonomi hingga mendapatkan julukan Abu Masakin (bapaknya orang-orang miskin) saat menerima penghargaan JTV Awards.

Prof. Muhadjir Effendy dalam sebuah pengantar buku Mengikat Tanpa Tali menyebut Pak Sis sebagai The Solution Giver. Banyak yang datang kepadanya untuk meminta bantuan atau jalan keluar menghadapi masalah, Pak Sis tak hanya memberi petuah, namun kadang juga membantu secara materi atau memberikan jalan ke kolega atau jaringannya.

Pak Sis adalah seorang pengamal Al Maun, yang menjadi salah satu ayat penggerak di Muhammadiyah, yaitu keberpihakan pada yang lemah atau kaum Mustadafin.

Namun jauh sebelum memiliki kekayaan materi, Pak Sis juga sudah suka berbagi. Saat awal kesuksesannya merintis bisnis peternakan, ada banyak orang datang kepadanya untuk belajar cara beternak yang baik. Semua itu diberikan secara gratis oleh Pak Sis.

Dalam salah satu bab pada buku Mengikat Tanpa Tali, yang merupakan buku biografi beliau, ada yang datang larut malam dan minta diajari cara beternak. Pak Sis sudah sangat lelah dan hendak istirahat, namun itupun masih disambutnya dengan terbuka.

Kegiatan bersama MDMC saat bencana letusan Gunung Kelud 2014.

Pendekatan Ekonomi sebagai Dakwah

Pak Sis termasuk salah satu tokoh Muhammadiyah yang menjadi role model dakwah dengan pendekatan ekonomi. Ia masuk ke daerah-daerah pelosok melalui "pembacaan kebutuhan" ekonomi masyarakat sekitar.

Zainal Arifin menjelaskan salah satunya di dusun Babatan/Komplangan, Ampelgading, Selorejo, Kabupaten Blitar. Satu dusun berisi 20 kelapa keluarga, masing-masing keluarga diberikan kambing.

Dakwah Muhammadiyah disana pun berkembang pesat, hingga dijadikan lokasi Milad Aisyiyah yang didatangi Bupati Blitar, Hery Nugroho. Bahkan sang Bupati sendiri baru mengetahui daerah tersebut saat mendatangi acara Milad Aisyiyah.

"Dulu daerah itu sangat terisolir, pasukan listrik sangat minim, jalanannya makadam, sekarang sudah agak mendingan setelah tersentuh dakwah Muhammadiyah," jelas Zainal.

Saat ini, sudah berdiri PCM Selorejo dan menjadi project Amal Usaha Muhammadiyah PDM Kabupaten Blitar di bidang peternakan ayam.

Perkembangan dakwah Muhammadiyah di Kabupaten Blitar pasca pemekaran begitu pesat. Hingga saat ini, dari total 22 Kecamatan, sudah berdiri 19 PCM dalam kurun waktu kurang dari 10 tahun.

H.M Yasin Sulthon, salah satu tokoh senior Muhammadiyah, mengenang betapa dermawannya sosok Marmin Siswojo.

"Pak Sis itu orang kaya yang gaya hidupnya sederhana dan tak pernah mengungkit kekayaannya. Pak Sis juga jarang bicara, tapi sering membantu orang, Masjid dan sekolah Muhammadiyah di Blitar banyak berdiri karena sikap kedermawanannya," kenang Yasin.

Di Kabupaten Blitar sendiri, Muhammadiyah justru berkembang di daerah-daerah pelosok, anomali dari citra Muhammadiyah yang identik dengan gerakan modernis berbasis perkotaan. Keberhasilan ini tak lepas dari tangan dingin Pak Sis dalam berdakwah secara ekonomi.

Ide Pak Sis lainnya adalah menjadikan PCM sebagai sentra pertanian dengan melihat potensi daerahnya. Hal itu juga diungkap Nadjib Hamid dalam bukunya Fiqh Kekinian.

Pak Sis ingin setiap cabang itu punya produk pertanian. Misal ada cabang yang fokus pengembangan buah pepaya, coklat, kelengkeng dan sebagainya. Namun Pak Sis sendiri mengakui jika ide itu belum berjalan maksimal karena mindset dan jiwa entrepeneurship di akar rumput yang belum terbangun dengan baik.

Ide itupun kini kembali diperjuangkan oleh anaknya, Hidayaturrahman, yang saat ini mejabat sebagai ketua PDM Kabupaten Blitar periode 2015-2022, bahwa setiap cabang di masa mendatang harus memiliki Amal Usaha untuk mempermudah dakwah di cabangnya masing-masing.

Pak Sis dalam sebuah acara di Metro TV

Seorang filantropis sejati

Salah satu yang sangat terkenang dari Pak Sis adalah jiwa filantropinya. Pengakuan itupun disampaikan langsung oleh M. Rofii, ketua MDMC Jawa Timur dalam acara Takziah Virtual mengenang Marmis Siswojo. Ia menceritakan betapa responsifnya Pak Sis ketika terjadi bencana alam di wilayah Jawa Timur, seperti misalnya letusan Gunung Kelud 2014 silam.

Pak Sis yang kala itu mejabat ketua PDM Kabupaten Blitar memberikan bantuan logistik dan material untuk keperluan para korban.

"Relawan dari kabupaten Blitar ini jika datang ke suatu lokasi biasanya sudah komplit, tak pernah memberatkan wilayah," ungkap M. Rofii.

Kesan mendalam juga dirasakan ketua Lazismu Jawa Timur, drh. Zainul Muslimin terkait kedermawaban Pak Sis, bahkan ia menulis catatatan obituari khusus tentang Pak Sis.

Tak hanya di wilayah Jawa Timur, Pak Sis juga turut membantu korban bencana alam seperti Gempa Jogja dan sekitarnya pada tahun 2006. Pak Sis memimpin sendiri dapur umum di daerah Gantiwarno, Klaten, selama satu bulan dan membangunkan kembali rumah warga yang rusak.

"Pak Sis membangunkan 12 rumah di daerah Gantiwarno, sehingga bagi warga disana sosok beliau punya kesan mendalam," kenang Jamalluddin Ahmad, ketua LPCR PP Muhammadiyah yang juga warga Gantiwarno, Klaten.

Pak Sis bersama Dr. Saad Ibrahim, Prof. Haedar Nashir saat peresmian RSI Aminah Blitar.

Berpulangnya tokoh besar

Sabtu, 13 November 2021, tersiar kabar meninggalnya H. Marmin Siswojo pada usia 81 tahun. Ungkapan duka cita muncul dari berbagai penjuru, berita kematian juga terpublikasikan dengan cepat. Ribuan orang menanti kedatangan jenazah di rumah duka.

Di antara pelayat yang hadir mengantarkan jenazah beliau adalah ketua PWM Jawa Timur, Dr. Saad Ibrahim, yang sekaligus menjadi Imam shalat jenazah. Lalu mantan Bupati Blitar, Riyanto, serta sederet tokoh masyarakat termasuk KH. Ardhani dari Nahdlatul Ulama.

Pak Sis adalah mata air keteladanan dalam dakwah, ekonomi. Ia sosok multidimensi, saudagar sukses yang ramah dan bersahaja. Ia juga sukses dalam perkaderan keluarga sehingga anak-anak dan menantunya sekarang menjadi penerus dakwah Muhammadiyah.

Blitar, 17 November 2021
Ahmad Fahrizal Aziz
loading...

Post a Comment

0 Comments