Menyiapkan Panggung-panggung Puisi





BLITAR- 2017 adalah tahun puisi, bagi kami. Selepas pertemuan rutin hari Ahad, masih di bulan puasa, kami membahas agenda persiapan Hari Puisi Indonesia (HPI) 2017. Waktunya cukup singkat, karena berdekatan dengan Hari Raya.

Di samping itu, buku antologi puisi juga sedang dipersiapkan. Berminggu-minggu agenda rutinan membahas puisi. Puncaknya, di penghujung tahun menghelat pagelaran bertajuk Gempa Puisi.

Ingatan itu tetiba muncul setelah mendapat notifikasi kenangan dari facebook, sosial media pertama yang menghargai pentingnya masa lalu.

###

Saya memang kurang dekat dengan puisi, bukan praktisi di bidangnya. Kadang-kadang saja membaca puisi.

Namun puisi adalah karya yang bisa dipanggungkan secara pribadi. Puisi bisa dibaca lewat beragam ekspresi.

Dari perayaan HPI 2017 di Istana Gebang, kita jadi tahu jika Blitar punya banyak penyair, yang sekaligus pegiat budaya, ASN, akademisi hingga pengusaha.

Di antara mereka, penyair-penyair muda, ada yang masih studi di luar kota. Kembali untuk unjuk aksi.

Pasca perayaan HPI 2017 itu, sepertinya ada prospek tersendiri untuk rutin membuat panggung-panggung puisi. Terutama lewat komunitas yang kami kelola. 


Para penyair tidak saja perlu menulis, namun juga harus ada panggung untuk mendeklamasikan karyanya.

Itu terealisasi pada 2019, tepatnya bulan Agustus. Secara rutin hingga sekarang, panggung itu digelar di Ampiteater Perpustakaan Bung Karno.

Memang bukan hal mudah menyiapkan panggung itu, urusan teknisnya terutama. Saya dan sebagian teman bukan "orang interior" yang pandai mendesain panggung.

Ini berbeda halnya saat perayaan HPI 2017. Ada Pak W Haryanto yang memang aktor teater, di samping penyair, juga memahami desain panggung plus punya peralatan lengkap seperti kain hitam, lampu sorot dan perangkat penunjang lainnya.

Harapannya kelak, di komunitas kami, ada sosok seperti Pak W. Ya tentu mereka yang punya jam terbang cukup di pentas-pentas kebudayaan.


Komunitas kami awalnya memang "hanya" wadah untuk belajar menulis. Tidak terpikirkan untuk mengelola panggung. Perlu "kuliah" khusus untuk itu.

Saya apalagi, bukan ahli panggung. Mentok hanya bisa menjadi moderator dan kadang-kadang MC amatiran.

Namun melihat lahirnya penyair baru, itu sungguh menyenangkan, sebut saja itu bagian dari reproduksi pegiat seni dan budaya, terlebih lewat komunitas yang kami rintis.

Ya tentu muncul kritik sana sini, sama seperti kritik dari karya tulis anggota yang masih mentah.


Biasanya saya menjawab: bayi lahir tidak bisa langsung senam aerobik atau break dance, namun kelahiran itu perlu disyukuri.

Sayangnya, tidak banyak yang mau merawat panggung. Saya berharap ada volunteer yang tidak saja "menikmati" panggungnya, namun juga ikut merawat dan mengelolanya.

Memang kerja seni tidak menggiurkan secara materi, apalagi di komunitas. Maka wajar jika lebih banyak yang pergi dibanding bertahan.

Mereka yang bertahan sebenarnya juga tidak semuanya penikmat panggung. Saya termasuk salah satunya, untuk apa sih jatuh bangun mempersiapkan panggung toh saya juga tidak tampil, tidak show up. Sebagian teman yang lain juga demikian.

Malah pernah suatu ketika, dalam sebuah pertemuan, seseorang bertanya tentang ketertarikan saya menulis. Dia menyarankan untuk bergabung dengan FLP Blitar.

Saya tersenyum dan menanggapi antusias, lalu dia memberi kontak seseorang yang mungkin menurutnya punya peran penting dalam komunitas itu.

Dalam batin, ya beginilah kalau terlalu asyik menyiapkan panggung tapi lupa ngeksis di panggung. Tapi untuk apa?

Itu tak masalah, yang penting panggung tetap ada, maka tulisan ini bertujuan mengetuk hati para relawan seni dan budaya untuk secara aktif terus memproduksi karya dan menciptakan panggung-panggung penyair.

Karena tidak hanya rendang atau soto ayam yang bisa dinikmati, kata-kata yang ditulis dan dibaca dengan penuh penghayatan pun juga bisa.

Rasanya gurih, manis, pahit, asam, menyatu dalam ruang batin. Ini soal rasa, bukan?

Sabtu, 31 Juli 2021
Ahmad Fahrizal Aziz

loading...

Post a Comment

0 Comments