Satu Cangkir, Dua Artikel







Kadang-kadang kami bertemu di warung kopi yang sama. Hubungan kami tak bisa dianggap dekat, dan kenal hanya sekadarnya saja. Saling menyapa jika berpapasan. Sesama pekerja media yang tengah memarkirkan lelahnya badan seusai liputan.

Kadang saya membawa sabun mandi dan handuk kecil, untuk numpang mandi di kafe. Kadang mampirnya di Masjid, sekaligus shalat dhuhur. Teriknya kota Malang pada siang hari membuat tubuh lengket oleh keringat.

Sesampainya di kafe, biasanya saya langsung menuju kamar mandi, untuk mandi siang. Tak betah rasanya, tubuh penuh keringat. Setelah itu baru memesan minuman dan camilan, untuk menuliskan tugas liputan, dengan kondisi badan yang lebih segar.

loading...
Bapak itu sepertinya lebih senior, dan lebih menikmati situasi. Sembari mengetikkan sesuatu di laptopnya, sesekali ia menyesap kopi dan menghisap putung rokok.

"Satu cangkir ini cak, harus dapet dua artikel," Ucapnya, sambil menawari saya rokok.

Ternyata memang sudah ada niat begitu, sejak awal jadi wartawan. Ia mulai menarget, sembari minum satu cangkir kopi, harus bisa menghasilkan dua artikel atau berita. (Kami menyebutnya artikel untuk tulisan non opini atau sastra).

Ia membuat folder artikel tiap bulannya, dan menghitung sebanyak artikel yang pernah ia tulis, kali seberapa cangkir kopi yang sudah ia habiskan.

"Lalu gimana kalau lebih dari dua artikel?" Tanya saya.

"Lho, dua artikel itu target minimal," Jelasnya.

Maka saya pun ikutan memesan kopi hitam, tubruk. Dengan camilan pisang goreng, tahu petis atau tahu tuna. Kadang kalau pas lapar, sekalian pesan nasi atau mi rebus.

Sejak saat itu, saya memahami arti lain dari minum kopi, sebagai teman beraktivitas. Kopi harus bisa menemani produktifitas.

Saat ini, sambil ngopi saya pun harus menghasilkan minimal dua artikel, untuk "makanan" blog-blog saya. Blog yang memang harus mendapatkan asupan harian, agar terus berprogres. Karena kalau pengunjungnya turun, maka "kesehatan" blog juga akan menurun.

Maka jangan sia-siakan waktu ngopi. Jangan hanya nikmati kopi di lidah saja. Nikmati kopi sebagai teman dalam berkarya, menghasilkan sesuatu yang berguna. []
loading...

Post a Comment

0 Comments