Blitar adalah Bung Karno




Dalam sebuah diskusi sejarah, para seniman dan pegiat literasi sering menyatakan jika Blitar bukan hanya Bung Karno, Blitar juga punya nilai historis tentang Majapahit dan Tentara PETA.

Namun praksisnya, orang mengenal Blitar karena Blitar adalah Bumi Bung Karno. Ada makam Bung Karno, Museum dan Perpustakaan, serta napak tilas sejarah hingga patung-patung Bung Karno di beberapa sudut kota.

Banyak orang dari luar kota berkunjung ke Blitar, salah satunya, karena ingin berziarah ke Makam Bung Karno. Titik itu menjadi sentra wisata, mulai dari PIPP hingga lokasi makam.

Bung Karno menjadi magnet utama wisatawan, banyak yang mengais rezeki mulai dari pedagang asongan, toko oleh-oleh, becak, pengusaha travel, bus, hingga jabatan struktural dalam pengelolaan makam dan perpustakaan.

Tak ada lokasi wisata di daerah Blitar yang "lebih hidup" dibandingkan lokasi wisata Bung Karno. Sebab ini bukan hanya soal destinasi wisata, namun lebih sebagai brand, kebanggaan ideologis dan historis.

Maka, betapapun ada banyak destinasi wisata tumbuh di Blitar, mulai dari wisata kreatif hingga wisata alam yang bejibun karena area Kabupaten memang memiliki keindahan alam yang menakjubkan, Bung Karno tak pernah tergantikan.

Lagipula, destinasi wisata di daerah-daerah juga terus tumbuh. Seberapa banyaknya pantai di Blitar, akan bersaing dengan daerah lain yang juga punya pantai. Persaingan itu sangat ketat, bahkan bisa dibilang untuk akses fasilitas, Blitar masih kalah dengan daerah lain seperti Pacitan, Trenggalek, Banyuwangi yang sudah mendesain wisata pantainya dengan sangat menarik.

Destinasi lain juga begitu, yang berbasis Park dan sejenisnya, pasti sulit bersaing dengan Kota Batu atau Malang. Begitupun wisata berupa sumber air dan semacamnya.

Namun Bung Karno, hanya Blitar yang punya. Daerah lain hanya punya jejak historis, misal Bung Karno pernah diasingkan di lokasi A, B, C. Pernah tinggal di lokasi D, indekos di lokasi E.

Lokasi di atas tak seramai dan sehidup area Makam Bung Karno. Terlebih ketika pemerintah pusat memutuskan untuk membangun Museum dan Perpustakaan UPT Bung Karno, aliran dana mengucur untuk terus mengadakan beragam kegiatan yang dampaknya semakin menghidupkan kawasan Blitar.

Namun mari berandai-andai, jika di Blitar "tidak ada" Bung Karno. Jika Bung Karno dimakamkan di Jakarta. Apa mungkin akan dibangun PIPP, Museum dan Perpustakaan. Apa mungkin sepanjang Jalan Ir. Soekarno dan Jalan Kalasan akan ramai seperti sekarang?

Bung Karno, yang lahir 6 Juni 1901 itu telah menjadi bagian dari Blitar, menyatu dalam pikiran dan perasaan orang Blitar.

Seluruh siswa se-Indonesia belajar sejarah dan pasti tahu siapa Bung Karno. Beranjak dewasa mereka akan bertanya kenapa makam Bung Karno tidak ditemukan di Ibukota sebagaimana Bung Hatta? Padahal Soekarno-Hatta adalah Dwitunggal, wakil bangsa Indonesia saat Proklamasi kemerdekaan.

Di era internet seperti ini mereka akan mencari dan menemukan jika Bung Karno dimakamkan di Blitar, yang berjarak lebih dari 750 km dari Ibukota, yang tidak ada Bandara, minimal harus menempuh perjalanan darat 2-3 jam dari Bandara terdekat.

Ziarah ke makam Bung Karno pun diagendakan oleh banyak komunitas, kelompok pengajian hingga rombongan keluarga dari berbagai penjuru. Ziarah adalah tradisi bangsa Indonesia yang mengakar kuat, apalagi pada tokoh yang dianggap penting dan punya jasa besar di masa lalu.

Blitar bukan hanya Bung Karno, tentu saja. Ada juga Raden Wijaya, Suprijadi, Sukarni, Djojodigdo, Laskar Diponegoro, dan sebagainya, namun seberapa peduli pemerintah dan masyarakat menghidupkan nilai historis dari sosok-sosok di atas?

Bung Karno dihidupkan sedemikian rupa lewat simbol, asesoris, gagasan yang terus dikaji hingga political will. Blitar adalah Bung Karno, orang-orang Blitar perlu punya wawasan sejarah dan pemikiran Bung Karno. []

Blitar, 6 Juni 2021
Ahmad Fahrizal Aziz
loading...

Post a Comment

0 Comments