Pidato dan Menulis, Dua Keahlian Para Tokoh Bangsa




Oleh Fahrizal A.

Jika kita amati, banyak (bahkan hampir semua) tokoh bangsa, utamanya di masa revolusi, memiliki dua keahlian ini : pidato dan menulis.

Pidato, atau lebih tepatnya keterampilan berbicara di depan banyak orang, agaknya menjadi hal penting. Makanya, semua tokoh pergerakan garis depan memiliki keahlian ini.

Pidato, termasuk orasi di dalamnya, jadi salah satu cara untuk membangkitkan semangat rakyat. Apalagi di tengah minimnya peralatan sound system pada masa itu, sehingga latihan olah vokal agar suara lantang dan didengar banyak orang meski tanpa pengeras suara, jadi hal penting.

Bung Karno adalah salah satu yang mencolok lewat gaya pidatonya, seorang orator ulung yang lihai memilih diksi, mengatur intonasi, serta mengaduk-aduk perasaan orang yang mendengarnya.

Selain itu, Sutan Sjahrir juga memiliki keahlian dalam hal ini, meski beda gaya dengan Bung Karno, namun kecakapannya dalam berargumentasi cukup teruji terutama dalam forum-forum diplomasi. Tak main-main, lawannya adalah diplomat bergelar akademik mentereng dari negeri Belanda.

Keahlian berpidato juga dimiliki Bung Hatta, meski dengan gaya yang lebih soft. Tokoh lain yang terkenal adalah Bung Tomo dari Surabaya. Agus Salim, yang terkenal lihai mematahkan argumentasi lawan, dan masih banyak lagi.

Keahilan berpidato di atas mimbar, debat dan orasi itu, juga dibarengi oleh keahlian menulis. Maka kesan bahwa mereka yang pandai bicara tak terlalu mahir menulis, atau yang mahir menulis tidak pandai bicara, terbantahkan pada masa itu.

Menulis jadi keahlian penting. Hampir semua tokoh pergerakan kemerdekaan memiliki karya tulis. Tiga serangkai (Bung Karno, Bung Hatta, dan Sutan Sjahrir) memiliki karya tulis, bahkan Bung Karno dan Bung Hatta sangat produktif menulis.

Tan Malaka, disamping dikenal sebagai tokoh pergerakan, juga banyak menghasilkan karya tulis. Tak terhitung jumlahnya. Moh Yamin, Ki Bagus Hadikusumo, M. Natsir, Tjipto Mangunkusumo, Ki Hajar Dewantara, dan masih banyak lainnya juga seorang peracik diksi yang menawan.

Generasi di atasnya kita kenal juga sosok Tirto Adisuryo, yang dikukuhkan sebagai bapak Pers Nasional. R.A Kartini dan kakaknya R.M Sosrokartono, juga memiliki keahlian menulis yang mumpuni.


Lalu kenapa dua keahlian itu penting?

Berbicara di depan umum adalah hal yang tak bisa dihindari oleh para tokoh tersebut. Tidak saja dalam forum-forum formal, namun juga ketika bertemu basis massa.

Tentu mereka juga harus menyesuaikan dengan lawan bicara, bagaimana bicara di hadapan teman sesama pejuang, serta pada rakyat jelata yang tidak mengenyam pendidikan, mengingat begitu diskriminatifnya pihak kolonial zaman itu.

Keahlian menulis, kala itu lebih digunakan untuk menyasar kalangan menengah ke atas, pejabat atau ambtenar, yang banyak juga dari kalangan bumiputra. Jangan dikira pejabat pada era kolonial semuanya adalah orang Eropa, banyak juga orang Pribumi dan Tionghoa.

Tulisan tersebar melalui surat kabar, pamflet dan selebaran. Dibaca oleh kalangan elit, menyebarkan gagasan-gagasan tentang kemerdekaan.

Menulis melatih seseorang berpikir sistematis, perbendaharaan kosa kata pun juga harus cukup. Serta berupaya agar pembaca menangkap maksud dari tulisan tersebut.

Keahlian berbicara yang baik bisa jadi ditopang oleh kecakapan menulis. Keduanya saling melengkapi, sama-sama memainkan bahasa, hanya beda medianya.

Karena memiliki dua keahlian tersebut, politisi-politisi pada awal kemerdekaan rata-rata memiliki konsep dan ide yang baik tentang negara. Meski tak jarang terjadi gesekan, namun perdebatan lebih karena perbedaan ide. Suatu perdebatan yang sehat, sebelum akhirnya perdebatan atas nama kekuasaan dan uang.

Pemilu 1955 dianggap sebagai pesta pertarungan ide, dalam bungkus ideologi partai politik. Sangat jelas ide-ide yang diusung. Bahkan perdebatan yang terjadi tak terlepas dari perbedaan ide tersebut.

Hal yang kini sulit sekali kita temukan, karena parpol hanya berbeda warna. Tokoh-tokohnya bisa pindah dari parpol A ke parpol B karena hitungan politis, bukan karena ideologi yang diusung.

Sekarang perdebatan ide itu mungkin tidak perlu terjadi, sebab sudah ada satu ideologi yang menjadi kesepakatan bersama. Namun perdebatan bisa lebih diarahkan ke pola kebijakan atau aturan yang sesuai dengan ideologi tersebut.

Sayang rakyat sulit mendapatkan gambaran tentang bagaimana konsep dan ide dari para politisi, termasuk ketika kampanye.

Keahlian berbicara memang tak surut, semakin banyak yang ahli bersilat lidah. Namun sulit kita memetik ide atau gagasan apa yang mereka sampaikan, selain hanya berbicara sebagai kader parpol atau kelompok politiknya.

Sementara keahlian menulis, di kalangan politisi, makin tak tampak. Tulisan lebih banyak dari kalangan akademisi yang tak secara langsung sebagai pengambil kebijakan.

Namun itu tak jadi soal, setidaknya dalam perjalanan sejarah Bangsa Indonesia, kita dapati para tokoh yang memiliki keahlian berpidato dan menulis sekaligus. Dua hal yang sebaiknya tetap diwariskan dari generasi ke generasi. []


loading...

Post a Comment

0 Comments