Misi Penyelamatan Diri, Physical Distancing




Sabtu, 28 Maret 2020

Makin kesini virus makin menyebar. Bahkan mungkin sebagian dari kita takut menyalakan ponsel notifikasi. Sebab seringkali denting hadirkan kabar yang sedang tak ingin orang menanti.


Jalanan lengang, pusat hiburan sepi, bahkan kalau ada yang nekat mengadakan resepsi, jaminan yang pasti adalah akan di bui polisi. Satu tahun terhitung sebagai waktu yang cukup untuk para pembangkang.


Ya, tugas kita hari ini adalah rebahan. Menghitung setiap anggota keluarga yang ada dirumah dan memastikan bahwa jumlahnya masih tetap sama seperti detail nama di kartu keluarga. Itu saja sudah cukup.


Dideskripsikan dalam ukuran nanometer, berbentuk bulatan kecil, menular lewat sentuhan, tempat persinggahan yang disukai paru-paru, berada pada hampir seluruh bagian belahan dunia (menandakan hoby traveling), minion ini dinamakan COVID-19.


Perihal yang perlu menjadi perhatian adalah munculnya beberapa berita yang kurang sesuai dengan kenyataan. Bahwa coronavirus mati pada suhu 26/27 derajat celcius, deterjen dapat membunuh coronavirus, dan berkumur dengan air garam atau cuka dapat menghilangkan coronavirus.


Dilansir dari cek fakta tempo.co bahwa COVID-19 tidak bisa terbunuh pada suhu 26/27 derajat celcius, sebab tidak ada penelitian yang membuktikan bahwa suhu tersebut dapat membunuh virus. Namun coronavirus akan mati pada suhu 56 derajat celcius (Herawati Sudoyo, Kabid Penelitian Fundamental Lembaga Biologi Molekular Eijkman).


Deterjen dapat membunuh coronavirus adalah kurang tepat karena yang dimaksut adalah virus enterik. Dan virus enterik ini tidak termasuk dalam kategori coronavirus (hal ini disampaikan oleh Sugiyono Saputra peneliti mikrobiologi di LIPI).


Berkumur dengan air garam atau cuka dapat menghilangkan coronavirus tidak benar. Sebab tidak ada bukti bahwa hal itu dapat menangkal infeksi COVID-19. Silahkan baca artikel yang disertai penjelasan WHO “Will Gargling with Salt Water or Vinegar ‘Eliminate’ the COVID-19 Coronavirus?”


Memang bernar kata orang, tapi entah disadari atau tidak. Pasca penetapan zona merah di beberapa daerah, kita sedang hidup di zaman dimana suara kentut lebih dihargai ketimbang suara batuk.


Phisycal distancing adalah upaya pemerintah untuk menanggulangi virus yang satu ini. Tugas kalian rebahan dirumah. Sekali lagi, rebahan dirumah. Jangan menuntut pemerintah untuk segera melakukan lockdown, sebab ada banyak hal yang perlu ditera berulang tentang hal ini.


Semua ingin Indonesia baik-baik saja. Tidak ada satu orangpun yang berharap atas kepemilikan virus ini. Jadikan physical distancing sebagai kiat kepedulian dari setiap kita. Ingat hatagnya masih tetap sama. #dirumahaja



(hnv)

loading...

Post a Comment

0 Comments