Kota dan Kenangan yang Diciptakannya





Senin, 14 Oktober 2019

Semua kota itu sama. Ada jalan raya, trotoar, warung, tempat wisata, dan semacamnya. Jika ada yang berbeda, itu hanya perasaan kita.

Perasaan dipengaruhi, salah satunya oleh tulisan. Seperti Jogja, yang kata orang tercipta dari rindu.

Ya, sebab puluhan ribu pengembara ilmu setiap tahunnya datang dan pergi. Menapakkan kaki di jalanan, trotoar, dan angkringan. Memeram rindu berbulan-bulan pada kampung halaman, berpuisi, dan mengisi sudut-sudut keramaian di Malioboro.

Tak ada yang benar-benar istimewa sebenarnya, selain cara kita sendiri memaknainya.

Begitupun dengan Malang, jelang dinihari di seputaran stasiun, alun-alun, taman-taman, selalu ada makna tersendiri.

Di deretan perumahan, kos-kosan, juga warung-warung makan. Kenangan tercipta secara alamiah, pada batas ketidakmampuan manusia menjangkau ruang dan waktu, dan segala yang telah berlalu.

Blitar juga begitu, ada rasa yang berbeda saat berkendara di seputaran jalan Merdeka, 10 tahun lalu.

Ada pikiran dan suasana yang tak bisa disamakan ketika duduk santai di depan gedung Dwipayana yang kini menjelma pusat perbelanjaan modern yang nyaris ada di setiap kota.

Pada saatnya, semua kota akan menjadi sama. Modernitas menghendaki bangunan dengan desain yang tak jauh beda. Teknologi menghendaki setiap orang menyesuaikan diri dengan keadaan.

Secangkir kopi di kafe-kafe menjelma cerita panjang yang tak pernah kita bayangkan sebelumnya.

Namun kenangan selalu tercipta, lewat cara yang berbeda. Lewat hari-hari yang kita lalui, lewat perbincangan hangat dengan seseorang, lewat diary dan perasaan yang kita tuangkan.

Kota hanya menjadi tempat persinggahan, kita sendiri yang merajutnya, mengisinya, menuliskannya, membuatnya penuh kenangan. []

Okui Kopi 5.0
Ahmad Fahrizal Aziz
follow instagram 
loading...

Post a Comment

0 Comments