Bu Woro, Wali Kelas Kami




Nilai Bahasa Indonesia saya cukup tinggi pada Ujian Nasional 2009, meski bukan yang tertinggi.

Ujian Nasional kala itu tidak seperti sekarang. Dulu sangat menakutkan, terlebih ada 6 kode soal, meski soalnya sama, hanya diacak nomor soalnya.

Tak ada pelajaran--selain Bahasa Indonesia--yang bisa saya banggakan. Itulah kenapa akhirnya mengambil kelas bahasa. Di samping karena bergelut di ekstrakurikuler Jurnalistik yang membutuhkan keterampilan berbahasa, khususnya menulis.

Selama dua tahun, pelajaran Bahasa Indonesia diampu oleh Bu Sri Endah Woro. Ada yang memanggil beliau Bu Endah, namun mungkin lebih banyak yang memanggil Bu Woro.

Saat naik kelas XII, tahun ajaran 2008-2009, Bu Woro menjadi wali kelas kami. Bu Woro tipikal guru yang santai saat mengajar, pas dengan pembawaannya yang enjoy.

Mungkin karena Bahasa Indonesia adalah pelajaran yang tak terlalu sulit bagi sebagian besar siswa. Nyaris tak ada siswa yang gagal lulus karena Bahasa Indonesia, meski juga teramat jarang yang dapat nilai 100.

Pelajaran yang, pokok telaten membaca, pasti tahu jawabannya, meski soalnya panjang-panjang dan lembar halamannya paling banyak.

Bu Woro tidak banyak memberi PR, karena tahu jika di antara kami harus pendalaman mata pelajaran lain. Saya misalnya, harus mengambil ekstra time untuk pelajaran Bahasa Inggris dan Matematika yang saat try out tidak lulus.

Ekstra time itu mengambil jam setelah pulang sekolah. Bu Woro terlihat happy karena seluruh siswa lulus try out Bahasa Indonesia.

Kata Bu Woro, kelas bahasa itu khusus (eksklusif). Kelasnya hanya satu. Beda dengan IPA dan apalagi IPS.

Saat Ujian Nasional, ruangan kami di kelas Enrichment. Kelas yang ketika masuk harus lepas sepatu, ada LCD Proyektornya dan AC duduk.

Soalnya pun khusus, sehingga--sambil bergurau--minim bocoran. Saat itu, memang marak isu bocornya soal Unas, namun untuk kelas IPA dan IPS.

Tidak banyak sekolah yang membuka jurusan Bahasa sebanyak IPA maupun IPS. Itu karena para murid paling banyak, dan paling ingin, masuk kelas IPA.

###


Bu Woro sosok yang humble dan murah senyum, serta dekat dengan murid-muridnya. Auranya menyenangkan.

Saya beberapa kali kepergok dari ruang BK karena terlambat. Ya, rekor keterlambatan saya memang cukup parah: 9 kali pada semester I.

Biasanya Bu Woro sambil geleng-geleng kepala, tersenyum dan berucap: yok opo zal zal.

Itu karena siswa yang terlambat harus mendatangi wali kelas dan meminta tanda tangan. Termasuk ketika wali kelas sedang mengajar.

Jika kebetulan tidak sedang mengajar, kami harus ke ruang guru. Ruangannya seperti Aula dengan deretan kursi dan meja yang memanjang. Jadi bisa dibayangkan "rombongan" siswa yang terlambat akan jadi tontonan para guru.

(Detailnya saya agak lupa, namun siswa yang terlambat dulu harus ke ruang guru mengambil selembar kertas sebagai "tiket" masuk kelas).

###

Saat tahu jika ada 9 murid kelas Bahasa yang tidak lulus Ujian Nasional, Bu Woro terlihat sedih.

Saat itu pengumuman diantar ke rumah masing-masing. Mereka yang tidak "dikunjungi" tim sekolah berarti dinyatakan lulus.

Mereka yang tak dikunjungi tim sekolah keesokan harinya datang ke sekolah dan merayakan suka cita kelulusan.

Saya ingat Bu Woro menghampiri kelas kami dengan mata mengembun, mungkin ikut senang dan terharu karena murid-muridnya lulus, sekaligus bersedih karena ada yang tidak lulus.

Saat itu informasi siapa yang lulus dan tidak masih simpang siur. Belum ada whatsapp seperti sekarang. Semua serba menduga-duga. Detailnya baru tahu setelah datang ke sekolah.

Beberapa teman kami yang tidak datang hari itu kemungkinan tidak lulus, sebagian ikut mengkonfirmasi dan memberikan support karena toh masih bisa ikut kelas susulan/paket C.

Namun lulus atau tidak itu hanya soal selembar kertas. Ternyata realitas tak lebih menakutkan dari bayangan kami saat itu.

Beberapa hari sebelum kelulusan, kami mengambil foto bersama di Kebonrojo. Foto kenangan perpisahan sekolah, Bu Woro datang bersama putranya, mengenakan baju pink.

Foto yang kemudian dimasukkan album kenangan. Sepertinya itu adalah momentum foto terakhir kami, sebelumnya kami berfoto untuk kalender sekolah di halaman tengah dekat tiang bendera.

###

Setelah lulus, mungkin 3-4 kali kami berkunjung ke rumah Bu Woro saat lebaran Idul Fitri.

Pada lebaran 2010, kalau tidak salah, Bu Woro mengabarkan jika peminatan kelas bahasa sudah tidak ada.

Saat kami kelas XII, masih ada kelas XI Bahasa. Itulah kelas bahasa terakhir, karena angkatan berikutnya sudah tidak ada hingga saat ini.

Sedih mendengarnya, namun saya bersyukur dan bangga pernah menjadi bagian dari kelas bahasa, yang Bu Woro menjadi wali kelasnya.

Kelas yang dianggap "turahan" dari mereka yang tak bisa masuk IPA namun juga tak tertarik ke IPS. Namun saat penjurusan, saya memilih bahasa sebagai jurusan pertama.

Kelas yang super santai dengan beban akademik yang tak begitu berat.

Meskipun, ketika daftar SNMPTN (Sekarang SBMPTN/ Tes tulis) ternyata tidak ada untuk jurusan Bahasa, harus ikut IPS dan mengerjakan soal-soal IPS.

Mungkin ini salah satu alasan kenapa jurusan Bahasa kurang begitu diminati.

Saya harus ikut ujiannya ank IPS. Guru pertama yang saya kirimi sms minta doa ya Bu Woro, sebagai wali kelas.

Nomor Bu Woro tersimpan di ponsel, mungkin karena saat itu saya perangkat kelas, sebagai Bendahara.

Tradisi minta doa itu memang sudah biasa di kalangan siswa siswi Aliyah.

Di era sekarang, dengan mudahnya akses teknologi, pasti guru-guru banyak yang dimintai doa siswa siswinya.

Begitupun saat pengumuman SNMPTN keluar, saya mengirim pesan ke Bu Woro mengabarkan jika saya diterima.

Saat itu, sebenarnya saya ingin mengabarkan jika sebagai anak bahasa berhasil melalui tes tulisnya anak-anak IPS, dan barangkali menjadi good story untuk generasi anak Bahasa berikutnya.

###
Pada Jumat, 23 Juli 2021 tersiar kabar duka tentang Bu Woro. Sosial media dipenuhi ucapan bela sungkawa.

Foto Bu Woro, yang terlihat agak kurus saat terakhir kali saya berjumpa beliau, melintas di story whatsapp, facebook dan beranda instagram.

Selamat jalan Bu Woro. Sudah banyak doa-doa yang beliau berikan ke para murid dan kini para murid yang akan mendoakan beliau. Laha aL-Fatihah.

Jumat, 23 Juli 2021
Ahmad Fahrizal Aziz
loading...

Post a Comment

0 Comments